26 May 2011

Obrolan sore di 1201

Untuk lebih mengakrabkan dosen dengan mahasiswa Fisika, akan diadakan acara “Obrolan di 1201”, pada Selasa, 24 Mei 2011, bertempat di R. 1201 Fisika, pukul 16:00 – 17:30, dengan acara Obrolan Santai: Dosen/Alumni/Mahasiswa berbagi cerita. Demikianlah bunyi undangan yang saya terima dari Kaprodi Fisika Abdul Waris.

Saya kebetulan adalah salah satu pengajar yang diminta untuk memberikan cerita dalam acara tersebut. Alhamdulillah waktunya dapat disesuaikan dengan aktivitas yang ada pada hari itu, dua hari yang lalu tersebut. Dalam acara ini saya menceritakan hal-hal yang saya lakukan dahulu saat masih seperti para pendengar, menjadi asisten, aktif di unit kegiatan, ikut himpunan, dan sebagainya. Beberapa pertanyaan diajukan oleh para pendengar setelah cerita-cerita diberitakan.

Beberapa kalimat yang sering saya ucapkan di kelas, dan saya ucapkan lagi dalam acara tersebut adalah seperti di bawah ini.

Makanan tidak lagi menjadi daya tarik bagi mahasiswa untuk berkumpul dalam suatu kegiatan, tidak seperti jaman dulu.

Kepemilikan telepon genggam jauh melesat dibandingkan dengan kepemilikan buku teks, yang sebenarnya secara fiansial bersaing dalam harga. Kampus yang merupakan miniatur masyarakat menunjukkan bahwa budaya kita masih lisan, tetapi dengan teknologi telekomunikasi yang canggih.

Jumlah mahasiswa yang aktif di himpunan + di unit kegiatan + di laboratorium (sebagai asisten dan sedang tugas akhir) < jumlah mahasiswa yang terdaftar. Apakah ini berarti tidak lagi jumlah mahasiswa tetap? Apakah terdapat faktor peluruhan? Atau perhitungan kekekalan jumlah tersebut kurang memperhitungkan faktor lain?

Masuk ITB bukan murni keinginan sendiri. Akibatnya sering kehilangan motivasi.

Cite as: Sparisoma Viridi, “Obrolan sore di 1201”, viridi.wordpress.com, 2011/05/26 07.48+07

Advertisements
13 May 2011

133 kata-kata Adik

Suatu saat sebelum sakit seorang rekan datang berkunjung sekeluarga. Dari ceritanya, anak harus diamati pada saat ia sudah cukup umur, jumlah kata-kata yang dapat diucapkannya. Kalau tidak salah anak berumur kira-kira 2-3 tahun itu harus telah dapat mengucapkan 80 kata atau lebih. Beberapa hari kemudian, kata-kata yang diucapkan Adik dihitung dan dicatat. Alhamdulillah ada 133 kata lebih.

ada, ading (anjing), ading (anting), air, ambil, anak, anduk, angin, Aninda (Adinda), Anuni (), apa, api, atas, awan, awas, ayah, ayam, bala-bala (laba-laba), banget, bau, bawah, bebek, bebi, Bela, bember (), bikin, bisa, Bitung (Cibitung), bocen (bosan), boleh (tidak boleh), bolom, bolong, botol, bu gulu (bu guru), bu Lin, bunda, cakit (sakit), cama (sama), cicak, cincing (), cuntik (suntik), dalah (darah), dinding, dingin, Doli, duduk, emen (elemen), enam, gala-gala bunda, galut si galut galut (), gulung, hati, helm, hiu, ibu, ibu bunda, ibu mama, ikan, ikan kakak (ikan kakatua), ikut, ikutan (ingusan), ilang lagi, ini, itu, itu apa, jalan, jubil (mobil), kadeng mami (kanjeng mami), kakak, kamal (kamar), Kapucing (), keleta (kereta), kinci (kelinci), kodot (), kolong, kuatan, kulal (), lampu, lebah, maap, main, mana (bagaimana), manang (berenang), mandi, mata, mati lampu, MCK, meong (kucing), merah, Mombob (Sponge Bob), montel (moster), mpup (pup), naik, na’is (nangis), nana (celana), Nemo, nenen, om Goss (om Gross), om Iki, oma, opa, pake, panang (), panas, pantat, pa’u (), paus, Payayat (Pak Yayat), polpen, potes (), puku-puku (kupu-kupu), pupup, rambut, silau, sudah, tabak (tabrak), teteh, tiga, tikus, tilau (silau), Timang (Chipmunk), tisu, tompet (terompet, dot), tumut (semut), tunggu, tunggu, turun, tusah (susah), tusu (susu), ulal (ular), zeg (Shrek).

Belum mendapatkan rujukan mengenai jumlah kata yang tepat untuk umur berapa. Dan hal ini juga tergantung pada apakah anak yang bersangkutan sering diajak bicara atau tidak. Suatu topik yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut.

Cite as: Sparisoma Viridi, “133 kata-kata Adik”, viridi.wordpress.com, 2011/05/13 07.25+07

11 May 2011

Penjumlahan, perkalian, dan pangkat

Suatu hari, saat Kakak menanyakan mengenai perkalian yang merupakan cara menuliskan penjumlahan dengan lebih singkat, yaitu misalnya saja

(1)  3 \times 5 = 5 + 5 +5,

jadi teringat bahwa terdapat pula notasi matematika lain yang dapat menyatakan perkalian dengan lebih singkat, yaitu pangkat

(2)  3^4 = 3 \times 3 \times 3 \times 3.

Dengan demikian dapat dituliskan bahwa

(3)  2^4 = (2 + 2) \times (2 + 2).

Kakak yang belum mengerti pangkat hanya menangkap pola-pola yang diajarkan ayahnya dan mengiyakan.

Jadi tertarik untuk menggali lebih lanjut apakah memang demikian bahwa para ilmuwan mendefinisikan lambang baru untuk menyederhanakan penulisan bentuk-bentuk yang lebih rumit? Menarik.

Cite as: Sparisoma Viridi, “Penjumlahan, perkalian, dan pangkat”, viridi.wordpress.com, 2011/05/11 08.29+07

10 May 2011

Hasil pengukuran bilirubin

Selama sakit seminggu di rumah, seminggu di rumah sakit, dan dilanjutkan seminggu di rumah, akhirnya hari ini diperbolehkan untuk kembali bekerja walaupun indikasi Hepatitis A yang diidap belum sepenuhnya hilang. Akan tetapi dokter optimis bahwa tren hasil pemeriksaan menuju ke arah normal (penyembuhan).

Beberapa indikator yang digunakan adalah nilai Bilirubin Total (BT) dengan rentang acuan 0.00 – 1.00 mg/dL, Bilirubin Direk (BD) dengan rentang acuan 0.00 – 0.25 mg/dL, Bilirubin Indirek (BI) dengan rentang acuan < 0.6 mg/dL, SGOT (AST) dengan rentang acuan < 33, dan SGPT (ALT) dengan rentang acuan < 50. Bila berada dalam rentang tersebut maka dikatakan telah pulih sepenuhnya.

Alhamdulillah trennya mendekati nilai-nilai penyembuhan. Dokter optimis tidak lagi perlu kontrol. Walaupun demikian, akan dicoba untuk periksa darah kira-kira sebulan lagi sambil memantau kesehatan. Selain itu olahraga pun dilarang selama kira-kira 3 bulan. Makan berlemak juga tidak boleh karena lemak mengganggu fungsi kerja hati, sementara ia sedang disembuhkan, pekerjaannya jangan dibuat berat. Obat yang dikonsumsi berfungsi sebagai vitamin hati.

Cite as: Sparisoma Viridi, “Hasil pengukuran bilirubin”, viridi.wordpress.com, 2011/05/10 10.40+07

26 April 2011

Persamaan dalam LaTeX

Persamaan dalam format \LaTeX telah didukung oleh WordPress dan WordPress.com pun memberikan layanan untuk itu untuk semua penggunanya seperti dilansir dalam post ini dan ini.

Suatu kode perlu disisipkan dalam post anda agar persamaan dalam \LaTeX dapat ditampilkan, yaitu

$latex your-latex-code-here$

sebagaimana di sebutkan di sini.

Jadi tampilan dari

$latex x_{12} = \frac{b^2 \pm \sqrt{b^2 - 4ac}}{2a}$

akan memberikan

x_{12} = \frac{b^2 \pm \sqrt{b^2 - 4ac}}{2a}

seperti yang diharapkan. Persamaan di atas merupakan rumus abc untuk mencari akar-akar dari persamaan kuadrat y = ax^2 + bx + c.

Cite as: Sparisoma Viridi, “Persamaan dalam LaTeX”, viridi.wordpress.com, 2011/04/26 07.30+07

14 April 2011

Tanda negatif di depan dλ

Saat membahas radiasi benda hitam yang diwujudkan dalam bentuk sebuah lubang dari suatu ruang tertutup, foton-foton yang terperangkap dalam ruang tertutup tersebut dapat dianggap sebagai kumpulan partikel-partikel gas yang bersifat sebagai boson yang mengikuti statistik Bose-Einstein.

Dengan menggunakan elemen volume ruang parameter dΓ dapat diperoleh ungkapan dalam bentuk dλ, yang kemudian dapat digunakan bersama-sama dengan fungsi distribusi untuk memperoleh jumlah partikel (atau foton) yang memiliki panjang gelombang antara λ dan λ + dλ. Hanya saja, pada saat penurunannya akan diperoleh tanda negatif yang umumnya diabaikan. Ungkapan yang dimaksud, tanpa fungsi distribusi, memiliki bentuk

(1)         dΓ = -4πVh3dλ/λ4.

Apakah arti tanda negatif dalam Persamaan (1) ini? Apakah hanya merupakan suatu konsekuensi diferensiasi dari energi foton ε yang kebetulan berbanding terbalik dengan panjang gelombang λ? Mungkinkah terdapat suatu arti khusus?

Cite as: Sparisoma Viridi, “Tanda negatif di depan dλ”, viridi.wordpress.com, 2011/04/14 14.32+07

13 April 2011

Panjang dan waktu proper

Salah satu permasalahan dalam mempelajari teori relativitas khusus (TRK) adalah bagaimana menentukan waktu mana yang merupakan waktu proper Δt0 dan panjang mana yang merupakan panjang proper L0. Istilah ‘sebenarnya’ yang sering menggantikan kata ‘proper’ tidak digunakan di sini agar tidak membingungkan.

Waktu proper dapat ditentukan dengan mudah bila konsep ruang waktu diperhatikan kembali. Pengamat yang mengamati dua peristiwa dengan menggunakan jam yang sama akan mencatat waktu proper (lebih tepatnya selang waktu proper).

Sedangkan untuk panjang proper adalah panjang di mana pengamat dapat mengukurnya kapan saja, tidak perlu harus pada suatu waktu. Panjang L yang diukur melalui laju relatif antara pengamat dan obyek v umumnya bukan merupakan panjang proper.

Cite as: Sparisoma Viridi, “Panjang dan waktu proper”, viridi.wordpress.com, 2011/04/13 12.35+07

17 April 2010

Torsi penghambat gerak menggelinding

Umumnya orang pernah suatu waktu melihat bola, misalnya saja bola basket, bola voli, bola bilyar, bola tenis, atau bola kaki, yang menggelinding di atas tanah mendatar sampai berhenti. Apakah ada yang istimewa dengan hal ini? Tentu saja ada dan hal tersebut adalah apa yang menyebabkan bola yang menggelinding itu berhenti. Orang bisa mengatakan bahwa penyebabnya adalah gesekan, akan tetapi bagi orang yang telah belajar gerak rotasi, dengan asumsi bola menggelinding tanpa tergelincir, hanya gesekan statis yang berperan dalam kasus ini. Dan gesekan statis tidak menyebabkan bola kehilangan energi kinetik sehingga dapat berhenti, malah arah torsi yang ditimbulkan gesekan statis ini seharusnya menyebabkan bola menggelinding bertambah cepat.

Buku-buku teks dan soal jawab umumnya membahas bagaimana benda menggelinding menuruni bidang miring melalui dinamika (Fishbane, Gasiorowicz, dan Thornton, 1993; Basar dan Novitrian, 2005; Halliday, Resnick, dan Walker, 2008), menggelinding pada bidang mendatar hanya dari hukum kekekalan energi tanpa kinematika (Gettys, Keller, dan Skove, 1989), atau bagaimana terjadinya transisi dari bola tergelincir kemudian menggelinding tanpa slip di atas lantai mendatar (Tippler, 1998). Hanya satu buku teks yang membahas mengapa bola menggelinding di atas lantai mendatar melambat sehingga akhirnya berhenti (Giancoli, 1988).

Pada benda yang menggelinding menuruni bidang miring adalah wajar benda tidak melambat karena adanya gaya gravitasi dalam hal ini akan diperoleh bahwa percepatan benda a = g \sin \theta / (1 + I/ m R^2), dengan \theta adalah sudut bidang miring terhadap arah mendatar, I momen inersia benda, m massa benda, dan g adalah percepatan gravitasi bumi.

Akan tetapi pada kasus benda menggelinding tanpa tergelincir di atas lantai mendatar, hukum gerak Newton untuk gerak translasi akan memberikan a = -f_s sedangkan hukum Newton untuk gerak rotasi akan memberikan a = R^2 f_s / I, dengan f_s adalah gaya gesek statis antara benda dan lantai. Kedua rumusan tersebut memberikan arah percepatan a yang berbeda, yaitu memperlambat dan mempercepat. Mana yang benar?

Giancoli menggambarkan bahwa saat benda menggelinding posisi gaya normal akan maju sejauh l pada arah gerak benda atau searah dengan v sehingga muncul torsi dari gaya normal sebesar – N l yang akan menyebabkan benda melambat sehingga dapat berhenti. Dengan model ini maka percepatan benda menurut hukum Newton untuk gerak translasi tetap a = -f_s akan tetapi untuk gerak rotasi menjadi a = – R (N l – R f_s) / I yang konsisten dalam memperlambat gerak benda.

Bila dimisalkan bahwa l = c_1 v maka akan diperoleh bahwa v = v_0 e^(- c_2 t), a = – c_2 v_0 e^(- c_2 t), x = x_0 + (v_0 / c_2) [1 – e^(- c_2 t)], dengan c_2 = (c_1 / R) g / (1 + I / m R^2), yang akan mendeskripsikan bagaimana sebuah benda yang menggelinding di atas lantai mendatar dapat berhenti.

Hasil diskusi dengan asisten dan mahasiswa memberikan informasi bahwa mereka belum pernah mendengar mengenai hal ini. Untuk itu suatu modul praktikum dengan judul Torsi Penghambat Gerak Menggelinding (Rolling Friction) dibuat dan diberikan pada suatu workshop untuk guru-guru dalam acara Seminar dan Workshop Nasional Fisika dengan judul “Kontribusi Fisika untuk Kesejahteraan Hidup Manusia dan Keselamatan Lingkungan”, Minggu, 18 April 2010, bertempat di Laboratorium Fisika Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Dalam modul tersebut digunakan bola basket sebagai obyek yang akan divariasikan tekanan udara di dalamnya dan dikorelasikan dengan jarak terjauh yang dicapainya setelah menuruni bidang miring sebelum berhenti di atas lantai mendatar.

Telaah lebih lanjut dapat dilakukan, misalnya dengan memodelkan bola dalam dua-dimensi dengan menggunakan dinamika molekular melalui material butiran, yang akan dapat memberikan bagaimana bentuk bola dan posisi gaya normal dari lantai kepada bola, saat bergerak menggelinding.

Cite this as:

Sparisoma Viridi, “Torsi penghambat gerak menggelinding”, viridi.wordpress.com, 2010/04/17

23 August 2008

Pheromone semut: membantu atau menyesatkan?

Pernahkan anda pada pagi hari memperhatikan semut-semut yang mati dalam gelas atau cangkir yang terisi air? Mengapa sampai mereka mati? Hal ini pun terjadi dalam wadah yang tidak berisikan air yang manis melainkan juga air tawar saja. Hal ini pernah diperhatikan penulis dan tidak menjadi suatu tanda tanya sampai pada suatu hari penulis mendapati semut-semut yang belum mati melainkan berputar-putar di sekitar tepian air berulang-ulang (Bandung, 2008).

Gejala yang aneh adalah semut-semut tersebut berputar menyusuri tepi air berulang-ulang. Bila ada semut yang kemudian berbalik arah mereka akan juga melalui lintasan yang sama dan dalam perjalanannya ‘menyalami’ rekan-rekan mereka berulang-ulang. Entah, apakah mereka tidak menyadari ada yang aneh, yaitu bahwa mereka telah terjebak dalam lintasan tiada akhir. Sebuah lingkaran.

Semut menggunakan sebuah sistem komunikasi penanda berbasis deposisi pheromone pada lintasan yang dilalui. Suatu penanda atau jejak yang dapat ditelusuri dan diikuti (Benzatti, 2007). Selain digunakan untuk menandai jalan bagi rekan-rekan mereka terdapat pula jenis pheromone yang dilepaskan untuk  membingungkan musuh-musuh mereka yang memanfaatkan sistem komunikasi penanda yang mirip (Wikipedia, 2006). Algoritma mengenai proses penandaan ini telah menjadi hal yang umum dalam berbagai pemodelan (Olson, 2006). Bahkan, dengan mengintegrasikannya dalam cakupan jenis intelegensia swarm, telah terdapat piranti lunak siap pakai untuk melakukan simulasi mengenainya (Nesterenko dan Motiwala, 2002).

Sebuah diskusi telah dilakukan dengan SonY Suhandono dari SITH ITB (Makassar, 2008) yang memberikan sebuah penjelasan singkat. Penjelasan yang mungkin perlu diamati dan dilakukan simulasi serta  eksperimen untuk menunjukkannya. Semut-semut tersebut saat melewati sebuah jalan akan melepaskan pheromone yang perlahan-lahan akan menguap dan habis. Apabila jalan tersebut dilalui berikutnya, akan terjadi pembaruan deposit pheromone di tempat tersebut. Begitulah berulang-ulang. Dengan mendeteksi kekuatan atau intensitas pheromone di tempat tersebut semut-semut dapat membedakan mana jalan besar dan mana jalan setapak yang dapat membawa mereka cepat pulang ke rumah.

Celakanya, pada lintasan berbentuk lingkaran yang ada dalam wadah air dekat dengan permukaan air, makin lama akan makin kuat intensitas pheromonenya apabila semut-semut tersebut berulang-ulang melaluinya. Tidak peduli ke arah mana semut-semut tersebut berputar. Dan bila terus-menerus, maka pasti akan ada saatnya di mana energi semut-semut tersebut itu habis sehingga mereka akan kelelahan dan terjatuh ke atas air. Mati.

Mungkin inilah penjelasan mengapa semut-semut tersebut mati di atas air padahal mereka seharusnya bila haus cukup dengan mendekatinya saja, minum dan kemudian pergi. Tidak perlu mereka sampai berenang dan mati di atasnya. Jadi kembali ke judul tulisan ini, apakah pheromone tersebut membantu semut untuk kembali ke sarangnya ataukah dapat menjadi sebuah cara komunikasi yang menyesatkan apabila ia terjebak ke dalam sebuah geometri yang membuat sistem tersebut tidak bekerja.

Bila hal ini diperluas lebih jauh, mungkin memang selalu terdapat dua sisi mata uang dari setiap hal. Sesuatu dapat bermanfaat apabila dimanfaatkan dengan baik, akan tetapi dapat pula menjadi racun apabila tidak diperhatikan kondisi dan situasi di mana dan kapan hal tersebut dipergunakan. Mungkin semut-semut tersebut perlu awas bahwa ada ruang-ruang dengan kelengkungan tertentu yang dapat menjebak mereka. Jenis ruang seperti apa yang dimaksud, merupakan suatu topik yang dapat dibahas panjang lebar pada tulisan lain.

5 August 2008

Miskonsepsi dalam fisika

Angelina Jolie dalam film Wanted (2008) dapat menembakan peluru pistolnya menempuh lintasan melengkung, mirip lintasan peluru meriam yang berbentuk parabola secara vertikal, akan tetapi dalam hal ini lintasan peluru pistolnya melengkung secara horisontal. Apa yang salah di sana? Bagi yang telah belajar fisika tentu akan muncul banyak pertanyaan akan tetapi bagi yang tidak, hal ini cukup menarik sekedar sebagai hiburan. Mungkin suatu saat film tersebut akan masuk dalam daftar yang dicakup oleh buku dengan judul Insultingly Stupid Movie Physics: Hollywood’s Best Mistakes, Goofs and Flat-Out Destructions of the Basic Laws of the Universe karangan Tom Rogers (Sourcebooks Hysteria, 2007), yang rasanya tidak perlu dijelaskan kira-kira apa isinya, yang telah cukup jelas tercermin dari judul buku tersebut. Film Wanted tersebut adalah salah satu contoh sumber miskonsepsi dalam bidang fisika. Lalu apa sebenarnya miskonsepsi itu sendiri?

Miskonsepsi adalah suatu konsep yang dipercaya orang walaupun konsep tersebut salah (Wikipedia, 2008), baik berupa ide atau pemikiran yang salah (Wiktionary, 2008), ataupun hanya berwujud pendapat yang salah (Dictionary Die Net, 2008). Miskonsepsi secara umum dapat dipandang sebagai bahaya laten karena dapat menghambat proses belajar akibat adanya logika yang salah dan timbulnya interferensi saat mempelajari konsep baru yang benar yang tidak cocok dengan konsep lama yang salah yang telah diterima dan mengendap dalam pemikiran (Muller dan Sharma, 2007). Disebut bahaya laten karena keberadaannya secara umum tidak terdekteksi saat tidak mendapat tantangan konsep lain (Simanek, 2007). Secara umum miskonsepsi ini terdapat hampir pada setiap bidang sains, seperti fisika (Clement, 1987; Gilbert et. al, 1982; Mohapatra, 1988), biologi ( Marek et. al, 1994), kimia (Pendley dan Brets, 1994), dan astronomi (Comins, 1994; Wandersee, Mintzes, dan Novak, 1994).

Adanya miskonsepsi dalam berbagai bidang ini telah lama disadari dan telah menjadi inti riset-riset empiris sains pembelajaran selama 20 tahun terakhir ini (Gönen dan kocakaya, 2006) sehingga telah banyak muncul tulisan-tulisan ilmiah mengenainya (Brna, 2008). Munculnya miskonsepsi yang paling banyak adalah bukan selama proses belajar mengajar melainkan sebelum proses belajar mengajar dimulai, yaitu pada konsep awal yang telah dibawa siswa sebelum ia memasuki proses tersebut atau yang disebut sebagai prekonsepsi (Celement, 1987).

Prekonsepsi ini bersumber dari pikiran siswa sendiri atas pemahamannya yang masih terbatas pada alam sekitarnya atau sumber-sumber lain yang dianggapnya lebih tahu akan tetapi tidak dapat dipertanggugjawabkan kebenarannya. Sumber-sumber prakonsepsi ini misalnya adalah film-film bertemakan teknologi, acara-acara fiksi-sains yang tidak tertata rapi, dan bahan-bahan bacaan. Demi melihat ini, untuk mengatasi miskonsepsi yang ada haruslah sumber dari prekonsepsi tersebut digali dan dicermati. Dengan demikian konflik yang muncul dapat diminimalkan sekecil mungkin. Karena bagaimanapun juga pertentangan akan memakan waktu dan energi, yang ingin dihindari saat pelurusan konsep salah yang telah ada dan dipercaya.

Untuk bidang fisika, terdapat strategi sukses implementasi pendekatan konseptual untuk membenahi miskonsepsi yang ada, yaitu melalui langkah-langkah: a) kenali prekonsepsi yang ada, b) uji miskonsepsi siswa lewat demo atau pertanyaan, c) ajak siswa untuk menjelaskan konsep yang mereka pahami atau percaya, d) pertentangkan miskonsepsi yang mereka punya dengan konsep-konsep lain yang benar yang telah mereka percaya pula, e) bujuk siswa untuk mengubah miskonsepsi mereka, f) evaluasi pengertian baru siswa lewat pertanyaan konsep, dan g) dorong terjadinya diskusi agar siswa menerapkan konsep-konsep fisika dalam alasan mereka. Dan hal yang perlu ditekankah adalah bahwa konsep-konsep yang ada haruslah konsisten. Dengan landasan ini siswa dapat dengan sendirinya memeriksa kumpulan konsep yang telah mereka percaya dan bisa memilah-milahnya mana yang sinergis dan mana yang tidak. Di sini peran pengajar amat penting untuk mengarahkan pertumbuhan konsep-konsep yang sinergis dan konsisten.

Miskonsepsi dalam bidang fisika dapat diubah melalui pertanyaan, eksperimen (dengan catatan bahwa hukum alam selalu benar), dan situasi hipotetis tanpa didasari hukum fisika yang kemudian akan diuji melalui eksperimen atau demonstrasi. Sedapat mungkin proses pembuktian tidak menggunakan perangkat matematika yang rumit, yang kadang belum didapat oleh siswa. Jangan memaksakan siswa untuk menerima konsep yang lebih dasar akan tetapi dengan tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Ini akan membuat siswa terlalu cepat matang, dan apabila abstraksinya belum cukup, pemaksaan konsep yang lebih abstrak akan melahirkan miskonsepsi baru yang pada saat itu belum disadari. Artinya miskonsepsi lama akan menjadi benar, akan tetapi muncul miskonsepsi baru yang tidak disadari.

Terkait dengan hal tersebut para pengajar, dalam hal ini guru dan dosen, perlu menyadari adanya hal ini sehingga proses belajar mengajar yang berlangsung dapat mengakomodasi adanya miskonsepsi. Khusus untuk di Indonesia belumlah cukup banyak riset mengenai hal ini, akan tetapi sudah mulai muncul. Saat ini telah dikembangkan pula riset tindakan dalam kelas yang dilakukan oleh guru sendiri, yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran proses belajar mengajar terkait dengan pembenahan miskonsepsi dalam fisika (Suparno, 2005). Untuk itu pula FMIPA ITB melalui dua buah pelatihan, yaitu Pelatihan Guru-guru SMU (Medco Foundation) pada 2-6 Juli 2008 dan Lokakarya Pembina Olimpiade Sains pada 16-17 Juli 2008, yang diselenggaran di Basic Science Center A, menitipkan materi-materi terkait miskonsepsi ini. Dengan maksud agar wacana ini dapat disadari eksistensinya oleh guru sebagai ujung tombak pengajaran dan pendidikan di Indonesia.

Sebagai penutup, marilah kita kembali ke peluru pistol Angelina Jolie yang dapat melengkung secara horisontal dalam film Wanted, yang mengawali tulisan ini. Sebuah benda yang jumlah gaya-gayanya nol hanya akan dapat bergerak lurus beraturan atau diam. Dalam hal ini, peluru pistol bergerak melengkung, maka sesuai dengan hukum pertama Newton tersebut harus ada gaya yang menyebabkan peluru berbelok. Pada peluru meriam yang melengkung ke bawah, gaya berat peluru tersebutlah yang menyebabkan ia melengkung. Lalu pada peluru yang ditembakkan oleh Angelina Jolie gaya apakah? Bila adegan tersebut diulang perlahan, dapat dilihat bahwa sang sutradara ingin menekankan bahwa lengkungan jalur peluru yang terjadi disebabkan oleh cara menembakkannya yang memiringkan serta sedikit mengayunkan pistol sedemikian rupa sehingga mempengaruhi arah jalannya peluru. Terdapat kesalahan konsep di sini, yaitu bahwa pengaruh tersebut hanya berlaku pada awal peluru ditembakkan dan keluar dari moncong pistol. Saat peluru sudah terbang bebas di udara, gaya yang diberikan oleh tangan yang menggenggam pistol sudah tidak lagi berlaku. Jadi peluru harusnya terbang lurus, karena tidak ada gaya yang berfungsi untuk membelokkan peluru.

Jadi seperti di tuliskan dalam sebuah halaman web (http://www.intuitor. com/moviephysics/), bila kita peduli dan kuatir akan penyebaran prekonsepsi fisika yang salah, mungkin perlu diusulkan adanya rating film-film terkait dengan konsep-konsep fisika yang digunakan. Mau tidak mau, konsep-konsep tersebut akan membekas pada yang menontonnya, dan pada suatu saat akan menjadi bahaya laten apabila konsep yang disajikan jelas-jelas keliru. Jadi tidak hanya kekerasan dan seks yang perlu disensor dalam sebuah film, pada saatnya mungkin konsep-konsep sains yang ada perlu juga diperhatikan bahayanya.