Archive for ‘Biologi’

13 May 2011

133 kata-kata Adik

Suatu saat sebelum sakit seorang rekan datang berkunjung sekeluarga. Dari ceritanya, anak harus diamati pada saat ia sudah cukup umur, jumlah kata-kata yang dapat diucapkannya. Kalau tidak salah anak berumur kira-kira 2-3 tahun itu harus telah dapat mengucapkan 80 kata atau lebih. Beberapa hari kemudian, kata-kata yang diucapkan Adik dihitung dan dicatat. Alhamdulillah ada 133 kata lebih.

ada, ading (anjing), ading (anting), air, ambil, anak, anduk, angin, Aninda (Adinda), Anuni (), apa, api, atas, awan, awas, ayah, ayam, bala-bala (laba-laba), banget, bau, bawah, bebek, bebi, Bela, bember (), bikin, bisa, Bitung (Cibitung), bocen (bosan), boleh (tidak boleh), bolom, bolong, botol, bu gulu (bu guru), bu Lin, bunda, cakit (sakit), cama (sama), cicak, cincing (), cuntik (suntik), dalah (darah), dinding, dingin, Doli, duduk, emen (elemen), enam, gala-gala bunda, galut si galut galut (), gulung, hati, helm, hiu, ibu, ibu bunda, ibu mama, ikan, ikan kakak (ikan kakatua), ikut, ikutan (ingusan), ilang lagi, ini, itu, itu apa, jalan, jubil (mobil), kadeng mami (kanjeng mami), kakak, kamal (kamar), Kapucing (), keleta (kereta), kinci (kelinci), kodot (), kolong, kuatan, kulal (), lampu, lebah, maap, main, mana (bagaimana), manang (berenang), mandi, mata, mati lampu, MCK, meong (kucing), merah, Mombob (Sponge Bob), montel (moster), mpup (pup), naik, na’is (nangis), nana (celana), Nemo, nenen, om Goss (om Gross), om Iki, oma, opa, pake, panang (), panas, pantat, pa’u (), paus, Payayat (Pak Yayat), polpen, potes (), puku-puku (kupu-kupu), pupup, rambut, silau, sudah, tabak (tabrak), teteh, tiga, tikus, tilau (silau), Timang (Chipmunk), tisu, tompet (terompet, dot), tumut (semut), tunggu, tunggu, turun, tusah (susah), tusu (susu), ulal (ular), zeg (Shrek).

Belum mendapatkan rujukan mengenai jumlah kata yang tepat untuk umur berapa. Dan hal ini juga tergantung pada apakah anak yang bersangkutan sering diajak bicara atau tidak. Suatu topik yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut.

Cite as: Sparisoma Viridi, “133 kata-kata Adik”, viridi.wordpress.com, 2011/05/13 07.25+07

10 May 2011

Hasil pengukuran bilirubin

Selama sakit seminggu di rumah, seminggu di rumah sakit, dan dilanjutkan seminggu di rumah, akhirnya hari ini diperbolehkan untuk kembali bekerja walaupun indikasi Hepatitis A yang diidap belum sepenuhnya hilang. Akan tetapi dokter optimis bahwa tren hasil pemeriksaan menuju ke arah normal (penyembuhan).

Beberapa indikator yang digunakan adalah nilai Bilirubin Total (BT) dengan rentang acuan 0.00 – 1.00 mg/dL, Bilirubin Direk (BD) dengan rentang acuan 0.00 – 0.25 mg/dL, Bilirubin Indirek (BI) dengan rentang acuan < 0.6 mg/dL, SGOT (AST) dengan rentang acuan < 33, dan SGPT (ALT) dengan rentang acuan < 50. Bila berada dalam rentang tersebut maka dikatakan telah pulih sepenuhnya.

Alhamdulillah trennya mendekati nilai-nilai penyembuhan. Dokter optimis tidak lagi perlu kontrol. Walaupun demikian, akan dicoba untuk periksa darah kira-kira sebulan lagi sambil memantau kesehatan. Selain itu olahraga pun dilarang selama kira-kira 3 bulan. Makan berlemak juga tidak boleh karena lemak mengganggu fungsi kerja hati, sementara ia sedang disembuhkan, pekerjaannya jangan dibuat berat. Obat yang dikonsumsi berfungsi sebagai vitamin hati.

Cite as: Sparisoma Viridi, “Hasil pengukuran bilirubin”, viridi.wordpress.com, 2011/05/10 10.40+07

23 August 2008

Pheromone semut: membantu atau menyesatkan?

Pernahkan anda pada pagi hari memperhatikan semut-semut yang mati dalam gelas atau cangkir yang terisi air? Mengapa sampai mereka mati? Hal ini pun terjadi dalam wadah yang tidak berisikan air yang manis melainkan juga air tawar saja. Hal ini pernah diperhatikan penulis dan tidak menjadi suatu tanda tanya sampai pada suatu hari penulis mendapati semut-semut yang belum mati melainkan berputar-putar di sekitar tepian air berulang-ulang (Bandung, 2008).

Gejala yang aneh adalah semut-semut tersebut berputar menyusuri tepi air berulang-ulang. Bila ada semut yang kemudian berbalik arah mereka akan juga melalui lintasan yang sama dan dalam perjalanannya ‘menyalami’ rekan-rekan mereka berulang-ulang. Entah, apakah mereka tidak menyadari ada yang aneh, yaitu bahwa mereka telah terjebak dalam lintasan tiada akhir. Sebuah lingkaran.

Semut menggunakan sebuah sistem komunikasi penanda berbasis deposisi pheromone pada lintasan yang dilalui. Suatu penanda atau jejak yang dapat ditelusuri dan diikuti (Benzatti, 2007). Selain digunakan untuk menandai jalan bagi rekan-rekan mereka terdapat pula jenis pheromone yang dilepaskan untuk  membingungkan musuh-musuh mereka yang memanfaatkan sistem komunikasi penanda yang mirip (Wikipedia, 2006). Algoritma mengenai proses penandaan ini telah menjadi hal yang umum dalam berbagai pemodelan (Olson, 2006). Bahkan, dengan mengintegrasikannya dalam cakupan jenis intelegensia swarm, telah terdapat piranti lunak siap pakai untuk melakukan simulasi mengenainya (Nesterenko dan Motiwala, 2002).

Sebuah diskusi telah dilakukan dengan SonY Suhandono dari SITH ITB (Makassar, 2008) yang memberikan sebuah penjelasan singkat. Penjelasan yang mungkin perlu diamati dan dilakukan simulasi serta  eksperimen untuk menunjukkannya. Semut-semut tersebut saat melewati sebuah jalan akan melepaskan pheromone yang perlahan-lahan akan menguap dan habis. Apabila jalan tersebut dilalui berikutnya, akan terjadi pembaruan deposit pheromone di tempat tersebut. Begitulah berulang-ulang. Dengan mendeteksi kekuatan atau intensitas pheromone di tempat tersebut semut-semut dapat membedakan mana jalan besar dan mana jalan setapak yang dapat membawa mereka cepat pulang ke rumah.

Celakanya, pada lintasan berbentuk lingkaran yang ada dalam wadah air dekat dengan permukaan air, makin lama akan makin kuat intensitas pheromonenya apabila semut-semut tersebut berulang-ulang melaluinya. Tidak peduli ke arah mana semut-semut tersebut berputar. Dan bila terus-menerus, maka pasti akan ada saatnya di mana energi semut-semut tersebut itu habis sehingga mereka akan kelelahan dan terjatuh ke atas air. Mati.

Mungkin inilah penjelasan mengapa semut-semut tersebut mati di atas air padahal mereka seharusnya bila haus cukup dengan mendekatinya saja, minum dan kemudian pergi. Tidak perlu mereka sampai berenang dan mati di atasnya. Jadi kembali ke judul tulisan ini, apakah pheromone tersebut membantu semut untuk kembali ke sarangnya ataukah dapat menjadi sebuah cara komunikasi yang menyesatkan apabila ia terjebak ke dalam sebuah geometri yang membuat sistem tersebut tidak bekerja.

Bila hal ini diperluas lebih jauh, mungkin memang selalu terdapat dua sisi mata uang dari setiap hal. Sesuatu dapat bermanfaat apabila dimanfaatkan dengan baik, akan tetapi dapat pula menjadi racun apabila tidak diperhatikan kondisi dan situasi di mana dan kapan hal tersebut dipergunakan. Mungkin semut-semut tersebut perlu awas bahwa ada ruang-ruang dengan kelengkungan tertentu yang dapat menjebak mereka. Jenis ruang seperti apa yang dimaksud, merupakan suatu topik yang dapat dibahas panjang lebar pada tulisan lain.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.